Senin, 18 Februari 2013

MUSEUM KOMODO


Museum Komodo adalah bangunan yang berbentuk Komodo Raksasa yang terletak di Taman Mini Indonesia Indah, Jakarta. Panjangnya 72 meter, dengan lebar 25 meter dan tinggi 23 meter. Bangunan ini merupakan museum fauna yang menyajikan berbagai jenis fauna di Indonesia seperti reptilia dan amfibia.
Sungguh menakjubkan ketika masuk ke museum ini, karena koleksi berbagai hewan yang ada di dalamnya lumayan lengkap. Tata letak museum dibagi menjadi dua bagian besar. Untuk outdoor adalah koleksi hewan-hewan hidup, dan untuk indoor adalah koleksi hewan-hewan yang telah diawetkan. Perjalanan ke museum ini bisa dimulai dengan mengitari bagian luar terlebih dahulu. 
Museum Fauna Indonesia
Museum Fauna Indonesia
Karcis masuk
Karcis masuk
Pintu masuk lokasi indoor
Pintu masuk lokasi indoor
Wow..Komodo...
Wow..Komodo...
Diresmikan pada tanggal 20 April1978
Diresmikan pada tanggal 20 April1978

Mengambil jalur kekiri setelah pintu masuk, maka berbagai koleksi ular akan kita temukan. Koleksi ular tersebut berasal dari berbagai wilayah di Indonesia. Sayangnya, tabung kaca transparan yang sekaligus berfungsi sebagai kandang sudah nampak kusam. Sehingga ular yang ada di dalamnya tidak tampak begitu jelas.
Di depan koleksi ular terdapat kolam kecil yang berisi buaya dan kura-kura. Di sudut belakang terdapat Taman Reptil, dimana disini kita bisa melihat komodo dan ular sanca yang besar. Jika mau, kita juga bisa menyentuh komodo yang sudah jinak dengan kawalan petugas. Serasa berada di Pulau Komodo secara langsung !
Sanca Emas (Liasis Albertisi ) berasal dari Papua
Sanca Emas (Liasis Albertisi ) berasal dari Papua
Buaya
Buaya
Kura-kura moncong babi asal Irian Jaya
Kura-kura moncong babi asal Irian Jaya
Kura-kura moncong babi asal Irian Jaya
Kura-kura moncong babi asal Irian Jaya
Buaya Sumpit (Senyulong)
Buaya Sumpit (Senyulong)
Buaya Sumpit (Senyulong) berasal dari Sumatera dan Kalimantan. Merupakan jenis buaya air tawar yang memiliki mulut kecil memanjang dengan gigi tajamnya menjorok keluar.
Buaya Sumpit (Senyulong) berasal dari Sumatera dan Kalimantan. Merupakan jenis buaya air tawar yang memiliki mulut kecil memanjang dengan gigi tajamnya menjorok keluar.
Ular Punai Kalimantan. Mempunyai warna dasar hijau tua kekuningan dengan bercak hijau muda dan hitam. Bentuk kepalanya segitiga, diantara lubang hidung dan mata ada lubang kecil yang dikenal dengan nama facial pit, fungsinya untuk mendeteksi hawa panas.
Ular Punai Kalimantan. Mempunyai warna dasar hijau tua kekuningan dengan bercak hijau muda dan hitam. Bentuk kepalanya segitiga, diantara lubang hidung dan mata ada lubang kecil yang dikenal dengan nama facial pit, fungsinya untuk mendeteksi hawa panas.
Tokek garis putih. Warna dasar cokelat muda, dibagian atas badannya terdapat garis putih yang melintang dari leher hingga pangkal ekor. Tokek mempunyai sifat Fartenogenesis, yaitu bisa berkembang biak tanpa terjadinya perkawinan.
Tokek garis putih. Warna dasar cokelat muda, dibagian atas badannya terdapat garis putih yang melintang dari leher hingga pangkal ekor. Tokek mempunyai sifat Fartenogenesis, yaitu bisa berkembang biak tanpa terjadinya perkawinan.
Komodo. Oleh penduduk setempat dipanggil ORA, merupakan warisan satwa purba dan ditetapkan KEPPRES No.4/1992 sebagai satwa nasional. Satwa komodo hanya terdapat di kawasan Pulau Komodo, Flores, Rinca, Padar - NTT dan masuk ke dalam daftar warisan dunia (World Heritage List).
Komodo. Oleh penduduk setempat dipanggil ORA, merupakan warisan satwa purba dan ditetapkan KEPPRES No.4/1992 sebagai satwa nasional. Satwa komodo hanya terdapat di kawasan Pulau Komodo, Flores, Rinca, Padar - NTT dan masuk ke dalam daftar warisan dunia (World Heritage List).
Komodonya jinak
Komodonya jinak
Komodo in action
Komodo in action
Ups..saleb Cobra
Ups...saleb cobra
Ada buah Majapahit
Ada buah Majapahit
Ular Sanca
Ular Sanca
Ular sanca albino. Secara alami mandul karena terbentuk akibat kelainan genetika. Dapat dikembangbiakkan dengan cara induce breeding (kawin suntik) asalkan pejantannya tidak albino. Panjangnya bisa mencapai 6 meter.
Ular sanca albino. Secara alami mandul karena terbentuk akibat kelainan genetika. Dapat dikembangbiakkan dengan cara induce breeding (kawin suntik) asalkan pejantannya tidak albino. Panjangnya bisa mencapai 6 meter.
Ular sanca emas. Memiliki warna tubuh keemasan & memiliki garis bibir di sepanjang sisinya. Panjang tubuhnya dapat mencapai 4 meter. Habitat hidupnya di hutan tropis.
Ular sanca emas. Memiliki warna tubuh keemasan & memiliki garis bibir di sepanjang sisinya. Panjang tubuhnya dapat mencapai 4 meter. Habitat hidupnya di hutan tropis.
Harimau
Harimau
Replika kehidupan hutan
Replika kehidupan hutan
Si Raja Hutan
Si Raja Hutan
Burung Cendrawasih
Burung Cendrawasih

Berdekatan dengan tempat komodo adalah tempat ular Sanca. Berfoto dengar ular sanca yang sudah jinak juga menambah daya tarik mengunjungi Museum Komodo dan Reptil ini. Setelah selesai berputar-putar di lokasi outdoor, kita bisa melanjutkan perjalanan ke lokasi indoor. Salah satu yang paling menarik adalah koleksi harimau Sumatera yang telah diawetkan. Karena semuanya masih asli seperti ketika hidup, walaupun mati hariamu-harimau itu nampak hidup. Terlihat gagah dan sangat kuat memang si Raja Hutan ini.
Berbagai koleksi burung dari seluruh Nusantara yang telah diawetkan tersimpan rapi di lantai dua gedung ini. Luar biasa memang koleksi Museum Komodo dan Reptil ini.






By : 















AMGD(http://mlancong.com/wisata-sejarah/wisata-museum/325-museum-komodo-tmii-melihat-komodo-tanpa-pergi-ke-pulau-komodo.html)



Komplek Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta Timur (13560 )
Telp.     :  (021) 8779096
Faks.    : (021) 8409281

MUSEUM PURNA BHAKTI PERTIWI


Museum Purna Bhakti Pertiwi adalah sebuah warisan lainnya dari mendiang Presiden Soeharto yang koleksinya sebagian besar berupa hadiah dari para petinggi negara, politisi, dan kalangan pebisnis, saat ia masih berkuasa. Ide untuk membangun Museum Purna Bhakti Pertiwi datang dari mendiang Ibu Tien Soeharto yang ingin berbagi dengan khalayak, atau lebih tepatnya ingin agar masyarakat memiliki kesempatan untuk ikut melihat benda-benda sangat berharga itu.
Sebuah ide mulia, karena dengan demikian masyarakat luas bisa mudah menikmatinya tanpa perlu mengeluarkan sejumlah besar uang untuk membeli dan menyimpannya.
Museum Purna Bhakti PertiwiMuseum Purna Bhakti Pertiwi diresmikan Soeharto pada 23 Agustus 1993, bertepatan dengan peringatan ulang tahun ke-70 Ibu Tien Soeharto, 3 tahun sebelum kematiannya pada tahun 1996.
Museum Purna Bhakti Pertiwi
Sebuah ukiran halus menggambarkan para penghuni hutan pada kayu berukuran besar berdiri tegak di ruangan utama Museum Purna Bhakti Pertiwi .
Pada jaman Orde Baru memang relatif tidak sulit untuk mendapatkan kayu berkualitas tinggi dengan ukuran besar, karena pada jaman itu berlangsung eksploitasi hutan besar-besaran.
Ketika terjadi krisis ekonomi seiring runtuhnya Orde Baru, kayu Indonesia berkualitas tinggi menjadi barang dagangan ekspor sangat menggiurkan.
Letak museum Museum Purna Bhakti Pertiwi ini sedikit agak jauh dari tempat parkir kendaraan, dan pengunjung memiliki pilihan apakah akan berjalan kaki atau naik kendaraan gratis disediakan untuk antar jemput ke museum.
Museum Purna Bhakti Pertiwi
Mangkuk berpenutup terbuat dari perak dan patung gajah terbuat dari kayu dilapis perak dengan miniatur gading asli, koleksi Museum Purna Bhakti Pertiwi .
Museum Purna Bhakti Pertiwi
Banyak sekali koleksi berupa barang-barang berharga terbuat dari perak dan gading gajah yang dipajang Museum Purna Bhakti Pertiwi.
Museum Purna Bhakti Pertiwi
Koleksi Museum Purna Bhakti Pertiwi berupa patung perak penari Melayu, diberikan oleh seorang penasehat ekonomi dari Malaysia.
Museum Purna Bhakti Pertiwi
Ragam dan keindahan koleksi Museum Purna Bhakti Pertiwi selalu mengundang decak kagum, seperti ketika melihat miniatur kapal rumit dan indah terbuat dari perak di atas
Museum Purna Bhakti Pertiwi
Koleksi Jangkar dan patung Cina indah di Museum Purna Bhakti Pertiwi .
Museum Purna Bhakti Pertiwi
Patung petani dengan kerbaunya yang disepuh emas di Museum Purna Bhakti Pertiwi , yang mengingatkan saya pada masa kecil di kampung.
Museum Purna Bhakti Pertiwi
Berbagai benda berharga terbuat dari kristal koleksi Museum Purna Bhakti Pertiwi. Sungguh sangat indah koleksi benda-benda berharga yang disimpan di Museum Purna Bhakti Pertiwi ini. Orang dengan uang tidak terbatas pun mungkin tidak pernah terpikir untuk memilikinya, atau tidak bisa menemukan dimana benda-benda itu dibuat dan dijual.
Jika pun bisa diperoleh, boleh jadi kualitas pekerjaannya telah berbeda lantaran seniman pembuatnya telah tiada.
Museum Purna Bhakti Pertiwi
Patung kuda dari bebatuan Cina dalam berbagai posisi, serta patung kuda tembaga dari Juana, Rembang, di Museum Purna Bhakti Pertiwi.
Museum Purna Bhakti Pertiwi
Kapal Sembilan Naga Museum Purna Bhakti Pertiwi, sebuah miniatur kapal Kekaisaran Cina yang agung, terbuat dari batu jade Nephrite yang berasal dari propinsi Xinjiang, Cina.
Museum Purna Bhakti Pertiwi
Koleksi Museum Purna Bhakti Pertiwi berupa burung-burung terbuat dari porselen yang berasal dari Herend – Hungaria, Bohemia – Czechoslovakia, Guiseppe Cherato dan Capodimonte – Italia, Kaiser – Jerman, serta BNR – Spanyol.
Museum Purna Bhakti Pertiwi
Langlang Buana, sebuah karya mengagumkan dari I Wayan Asin, Bali, dengan memakai bahan akar pohon karet berusia 100 tahun yang memakan waktu 16 bulan untuk menyelesaikannya, disimpan diMuseum Purna Bhakti Pertiwi .
Ukiran ini menceritakan Nawa Sanga, atau Sembilan Dewa Pelindung yang menjaga 9 arah mata angin. Mereka adalah Brahma (Selatan), Wisnu (Utara), Siwa (Pusat), Iswara (Timur), Mahadewa (Barat), Sambhu (Timur Laut), Maheswara (Tenggara), Rudra (Barat Laut) and Sangkara (Barat Daya), koleksi Museum Purna Bhakti Pertiwi.
Museum Purna Bhakti Pertiwi
Sekelompok patung yang terbuat dari mata uang logam, karya Dewa Made Windia (Peliatan, Ubud) di Museum Purna Bhakti Pertiwi . Jenis mata uang kuno yang sama masih dipakai dalam ritual keagamaan di Bali.
Museum Purna Bhakti Pertiwi
Koleksi keramik dan porselen yang indah Museum Purna Bhakti Pertiwi .
Museum Purna Bhakti Pertiwi
Koleksi Museum Purna Bhakti Pertiwi berupa topeng dan sebuah patung orang Jepang yang unik.
Museum Purna Bhakti Pertiwi
Koleksi Museum Purna Bhakti Pertiwi berupa pertarungan mematikan antara Rahwana dan Jatayu dalam legenda Ramayana, karya I Ketut Moderen, Bali, yang terbuat dari pohon Johar.
Ketika tengah berjalan di Museum Purna Bhakti Pertiwi ini, terpikir selintasan bahwa sesungguhnya jauh lebih murah untuk menikmati keindahan benda-benda berharga ini dengan mengunjungi museum, daripada memiliki sendiri.
Selain tidak memerlukan banyak uang untuk mengunjungi sebuah museum, apalagi di Jakarta yang tiket masuknya umumnya sangat murah, orang juga tidak perlu pusing dengan perawatan dan keamanannya.
Museum Purna Bhakti Pertiwi
Koleksi Museum Purna Bhakti Pertiwi berupa gading gajah, yang diukir dengan legenda Ramayana, serta patung penari yang tengah meniup seruling yang terbuat dari mata uang logam, karya Dewa Windia.
Museum Purna Bhakti Pertiwi
Rangda, lambang kekuatan jahat; Barong Ket (Keket), lambang kekuatan baik; dan Celuluk, lambang kekuatan jahat yang lain. Sebuah karya I Wayan Raka, Bali, yang disimpan di Museum Purna Bhakti Pertiwi lantai 2.
Museum Purna Bhakti Pertiwi
Sebuah pesan dari mendiang Soeharto di Museum Purna Bhakti Pertiwi .
Museum Purna Bhakti Pertiwi
Bangunan Museum Purna Bhakti Pertiwi berbentuk kerucut yang bentuknya menyerupai nasi tumpeng dalam tradisi Jawa itu dibangun di atas tanah seluas 19,7 hektar dengan luas keseluruhan bangunan 25.095m2 .
Museum Purna Bhakti Pertiwi merupakan tempat wisata museum di Jakarta yang sangat menarik untuk dikunjungi, dengan begitu banyaknya koleksi benda-benda sangat berharga yang akan sulit bagi siapa pun juga untuk mengumpulkannya dalam satu tempat, apalagi untuk memilikinya.

Museum Purna Bhakti Pertiwi

Jl. Jalan Raya Taman Mini Pintu 1. Kel. Ceger, Kec. Cipayung
Jakarta Timur, 13820
Tel. 021-8401604
Fax. 021-8411464
GPS: -6.300682,106.886644 (lihat Peta).
Karcis masuk Rp 2.000 untuk dewasa, dan Rp 1.000 untuk anak-anak
Buka Senin – Sabtu dari pukul 09.00 – 16.00, Minggu dari pukul 09.00 – 18.00.
Pengunjung diantar pulang-pergi oleh kendaraan “jeepney” tanpa dipungut biaya.






sumber : http://thearoengbinangproject.com/museum-purna-bhakti-pertiwi-jakarta/

MUSEUM PENGKHIANATAN PKI LUBANG BUAYA


Museum Pengkhianatan PKI (Komunis) berada dalam satu kompleks dengan Monumen Pancasila Sakti yang berada di Jl. Raya Pondok Gede, Lubang Buaya, Kecamatan Cipayung, Jakarta Timur, beberapa ratus meter dari Asrama Haji Pondok Gede. Museum Pengkhianatan PKI ini dikelola oleh Pusat Sejarah TNI, Departemen Pendidikan, serta Departemen Kebudayaan Pariwisata, memiliki ratusan benda bersejarah terkait dengan peristiwa pemberontakan G30S-PKI.
Tautan terkait Jakarta:
Tempat Wisata Jakarta | Peta | Hotel | Kuliner | Transportasi
Pintu gerbang tinggi menyambut pengunjung ketika memasuki Lubang Buaya, dengan jalan masuk lebar serta pepohonan rindang. Pengunjung membayar karcis masuk sebesar Rp.2.500 per orang, baik dewasa maupun anak-anak, dengan karcis parkir bus Rp. 3.000, mobil sedan Rp. 2.000, sepeda motor Rp. 1.000.
Museum Pengkhianatan PKI Lubang Buaya
Diorama Museum Pengkhianatan PKI tentang teror Gerombolan Ce’ Mamat, gembong komunis 1926, Ketua Komite Nasional Indonesia Serang. Ia menuduh pemerintah RI Banten sebagai kelanjutan kolonial, juga menghasut rakyat agar tidak mempercayai pejabat pemerintah.
Pada 17 Oktober 1945 Ce’ Mamat membentuk Dewan Pemerintahan Rakyat Serang, merebut pemerintahan Karesidenan Banten, menyusun pemerintahan model Soviet. Ce’ Mamat beserta pengikutnya, diantaranya Laskar Gulkut, melakukan aksi teror, merampok, menculik membunuh pejabat pemerintahan.
Ketika Presiden Sukarno serta Wakil Presiden Moh. Hatta berkunjung ke Banten, dengan alasan dipanggil Presiden, Ce’ Mamat dengan anak buahnya menjemput R. Hardiwinangun, Bupati Lebak, dari rumahnya di Rangkasbitung dan membawanya ke desa Panggarangan. Keesokan paginya, 9 Desember 1945, mereka membunuh R. Hardiwinangun dengan menembaknya di atas jembatan sungai Cimancak lalu melempar mayatnya ke sungai.
Museum Pengkhianatan PKI Lubang BuayaMuseum Pengkhianatan PKI memperlihatkan tindak kekerasan Pasukan Ubel-Ubel di Sepatan, Tangerang, pada 12 Desember 1945. Dimulai pada 18 Oktober 1945, Badan Direktorium Dewan Pusat pimpinan Ahmad Khairun dengan dukungan gembong komunis bawah tanah berhasil mengambil alih kekuasaan pemerintah RI Tangerang dari Bupati Agus Padmanegara.
Mereka membubarkan aparatur pemerintah tingkat desa sampai kabupaten, menolak mengakui pemerintah pusat RI, membentuk Laskar Hitam atau Laskar Ubel-Ubel karena berpakaian serba hitam memakai ubel-ubel (ikat kepala). Laskar Ubel-Ubel melakukan aksi teror dengan membunuh merampok harta penduduk Tangerang dan sekitarnya, seperti Mauk, Kronjo, Kresek, Sepatan.
Pada 12 Desember 1945, dibawah pimpinan Usman, Laskar Ubel-Ubel merampok penduduk Desa Sepatan, melakukan pembunuhan, termasuk membunuh tokoh nasional Oto Iskandar Dinata di Mauk.
Museum Pengkhianatan PKI Lubang BuayaMuseum Pengkhianatan PKI melukiskan peristiwa revolusi sosial Langkat pada 9 Maret 1946. Peristiwa ini bermula karena berdirinya Republik Indonesia belum diterima sepenuhnya oleh kerajaan-kerajaan Sumatera Timur. Ketidakpuasan sebagian rakyat yang menuntut penghapusan kerajaan dimanfaatkan PKI serta Pesindo untuk mengambil alih kekuasaan secara kekerasan.
Revolusi sosial dimulai pada 3 Maret 1946, selain untuk menghapus kerajaan juga merampok harta benda serta membunuh raja-raja beserta keluarganya. Tindakan teror pembunuhan terjadi di Rantau Prapat, Sunggal, Tanjung Balai dan Pematang Siantar pada hari itu.
Pada 5 Maret 1946 Kerajaan Langkat secara resmi dibubarkan dan ditempatkan dibawah pemerintahan RI Sumatera Timur, namun tetap saja pada malam 9 Maret 1946 massa PKI pimpinan Usman Parinduri dan Marwan menyerang Istana Sultan Langkat Darul Aman di Tanjung Pura. Istana diduduki massa PKI, beberapa keluarga Sultan dibunuh, Sultan beserta keluarganya dibawa ke Batang Sarangan.
Museum Pengkhianatan PKI Lubang Buaya
Diorama Museum Pengkhianatan PKI tentang pengacauan Surakarta pada 19 Agustus 1948, sebagai salah satu upaya pengalihan perhatian pemerintah RI terhadap persiapan kegiatan pemberontakan PKI Madiun.
PKI membakar ruang pameran Jawatan Pertambangan ketika berlangsung pasar malam Sriwedari dalam rangka hari ulang tahun kemerdekaan RI. Rembetan api dapat dicegah, namun timbul kepanikan pengunjung sehingga 22 orang menderita luka-luka.
Museum Pengkhianatan PKI Lubang BuayaMuseum Pengkhianatan PKI menampilkan pemberontakan PKI Madiun pada 18 September 1948. Gagal menjatuhkan kabinet Hatta dengan cara parlementer, komunis membentuk Front Demokrasi Rakyat, melakukan aksi-aksi politik serta tindak kekerasan.
Musso (Muso Manowar), atau Paul Mussotte, yang baru kembali dari Moskow dan mengambil alih pimpinan PKI, menuduh Soekarno-Hatta menyelewengkan perjuangan bangsa Indonesia. Ia menawarkan “Jalan baru Untuk Republik Indonesia”. Pada saat perhatian pemerintah dan Angkatan Perang terpusat untuk menghadapi Belanda, PKI melakukan kampanye menyerang politik pemerintah, melakukan aksi-aksi teror, mengadu domba kekuatan bersenjata, juga sabotase ekonomi.
Dini hari 18 September 1948, ditandai 3 letusan pistol, PKI memulai pemberontakan Madiun. Pasukan Seragam Hitam menyerbu, menguasai tempat-tempat penting dalam kota, termasuk gedung Karesidenan Madiun. Di gedung ini PKI mengumumkan berdirinya “Soviet Republik Indonesia” serta membentuk Pemerintahan Front Nasional. Sejumlah petinggi militer, pejabat pemerintah dan tokoh masyarakat pun dibunuh.
Museum Pengkhianatan PKI Lubang BuayaMuseum Pengkhianatan PKI menggambarkan saat Musso tertembak mati pada 31 Oktober 1948. Pada 1 Oktober 1948, TNI menguasai Dungus yang dijadikan PKI sebagai basis setelah kekalahan mereka di Madiun. Pemimpin dan pasukan PKI lari ke arah selatan, berusaha menguasai Ponorogo, namun gagal. Musso dan Amir Sjarifuddin lari menuju gunung Gambes, dikawal oleh dua batalyon yang cukup kuat. Mereka berpisah di tengah perjalanan.
Musso bersama dua orang pengawalnya menyamar sebagai penduduk desa, tiba di Balong pada pagi 31 Oktober 1948, ia menembak mati seorang anggota Polisi yang memeriksanya. Dengan naik dokar rampasan diiringi pengawal bersepeda, hari itu juga ia tiba di desa Semanding, Kecamatan Somoroto. Ia menembak seorang perwira TNI yang mencegatnya, namun tidak mengenai sasaran. Karena tidak bisa menjalankan kendaraan TNI rampasan, Musso lari masuk desa, bersembunyi di sebuah blandong (tempat mandi) milik seorang penduduk. Pasukan TNI yang mengepungnya memerintahkan supaya ia menyerah, namun Musso melawan. Ia mati tertembak dalam peristiwa.
Museum Pengkhianatan PKI Lubang Buaya
Beberapa orang pengunjung tengah mengamati diorama Museum Pengkhianatan PKI tentang penangkapan Amir Sjarifuddin pada 29 November 1948.
Setelah berpisah dari Musso, melalui perjalanan panjang dan sulit, Amir Sjarifuddin tiba di daerah Purwodadi dan bersembunyi di gua Macan di Gunung Pegat, Kecamatan Klambu. Semula polisi keamanan yang menjaga garis demarkasi Demak-Dempet-Gendong, tidak jauh dari tempat persembunyiannya, adalah orang-orang komunis, sehingga ia merasa aman.
Setelah TNI melucuti Polisi Keamanan itu dan melancarkan operasi-operasi pembersihan di sekitar daerah Klambu, posisi Amir Sjarifuddin pun terjepit. Pada 22 Nopember 1948 pasukan pengawalnya menyerah, dan Senin sore 29 Nopember 1948 tempat persembunyiannya dikepung TNI. Amir Sjarifuddin dan beberapa tokoh PKI lainnya pun menyerah dan diserahkan kepada komandan Brigade-12 di Kudus.
Museum Pengkhianatan PKI Lubang Buaya
Diorama Museum Pengkhianatan PKI yang melukiskan serangan PKI ke asrama polisi di Tanjung Priok pada 6 Agustus 1951.
Sesudah Pengakuan Kedaulatan RI, sisa-sisa PKI membentuk gerombolan bersenjata Sunari di Jawa Timur, Merapi-Merbabu Compleks di Jawa Tengah, dan gerombolan Eteh di Jakarta. Pada 6 Agustus 1951 pukul 19.00 WIB, gerombolan bersenjata Eteh berkekuatan puluhan orang dengan memakai ikat kepala bersimbol burung merpati dan palu arit menyerang asrama Mobile Brigade Polisi di Tanjung Priok untuk merebut senjata. Dua anggota polisi mengalami luka-luka parah dan seorang wanita penghuni asrama juga menderita luka-luka. Gerombolan Eteh berhasil merampas 1 bren, 7 karaben mauser dan 2 pistol.
Museum Pengkhianatan PKI Lubang Buaya
Diorama penangkapan D.N. Aidit yang terjadi pada 22 November 1965 di Museum Pengkhianatan PKI.
Pada 1 Oktober 1965 tengah malam, Ketua CC PKI D.N.Aidit melarikan diri ke Jawa Tengah yang merupakan basis utama PKI. Tanggal 2 Oktober 1965 ia berada di Yogyakarta, dan berpindah-pindah tempat ke Semarang dan Solo untuk menghindari operasi pengejaran oleh RPKAD (Resimen Para Komando Angkatan Darat, sekarang Kopassus). Ia bersembunyi di sebuah rumah di kampung Sambeng Gede yang merupakan basis Serikat Buruh Kereta Api (SBKA), organisasi massa di bawah pengaruh PKI.
Tempat persembunyian D.N. Aidit ini akhirnya diketahui oleh ABRI melalui operasi intelijen. Pada 22 Nopember 1965 pukul 01.30 pagi rumah persembunyian D.N. Aidit digrebek oleh anggota Komando Pelaksanaan Kuasa Perang (Pekuper) Surakarta. Penangkapan hampir gagal ketika pemilik menyatakan D.N. Aidit telah meninggalkan rumahnya. Kecurigaan timbul setelah anggota Pekuper menemukan sandal yang masih baru, koper dan radio. Setelah penggeledahan dilanjutkan, dua orang Pekuper menemukan D.N. Aidit yang bersembunyi di balik lemari, dan ia pun dibawa ke Markas Pekuper di Loji Gandrung, Surakarta.
Museum Pengkhianatan PKI Lubang Buaya
Diorama Museum Pengkhianatan PKI yang menunjukkan proses lahirnya Sura Perintah 11 Maret 1966.
Pada 11 Maret 1966 Kabinet Dwikora bersidang di Istana Negara, ditengah memuncaknya demonstrasi mahasiswa yang menuntut pembubaran PKI, pembersihan kabinet dari oknum-oknum G.30.S/PKI dan penurunan harga. Presiden Soekarno yang mendapat laporan bahwa istana dikepung oleh pasukan tidak dikenal, segera meninggalkan sidang dan berangkat ke Istana Bogor.
Tiga orang perwira tinggi TNI Angkatan Darat, yaitu Mayjen Basuki Rachmat, Brigjen M. Yusuf dan Brigjen Amir Machmud menyusul ke Bogor setelah melapor kepada Men/Pangad Letjen Soeharto. Mereka meyakinkan Presiden bahwa tidak benar ada pasukan tanpa identitas mengepung Istana dan menyampaikan pesan Letjen Soeharto yang sanggup mengatasi keadaan apabila Presiden memberinya kepercayaan untuk tugas itu. Dari laporan itu lahir ide untuk memberikan Surat Perintah kepada Letjen Soeharto.
Presiden Soekarno memerintahkan ketiga perwira tinggi itu menyusun konsep surat perintah. Konsep itu kemudian dibaca oleh tiga orang Wakil Perdana Menteri yang juga berada di Istana Bogor. Surat perintah yang kemudian dikenal dengan Surat Perintah 11 Maret 1966 atau “Supersemar” berisi pemberian wewenang kepada Letjen Soeharto untuk mengambil segala tindakan yang dianggap perlu guna terjaminnya keamanan dan ketenangan serta kestabilan jalannya pemerintahan dan jalannya revolusi. Malam itu juga SP 11 Maret disampaikan kepada Letjen Soeharto di Jakarta.
Museum Pengkhianatan PKI Lubang Buaya
Diorama Museum Pengkhianatan PKI yang menunjukkan saat masyarakat Jakarta menyambut keputusan pembubaran PKI pada 12 Maret 1966.
Pada malam tanggal 11 Maret 1966 Menteri/Panglima Angkatan Darat (Men/Pangad) Soeharto menerima Surat Perintah yang dikenal sebagai Surat Perintah 11 Maret dari Presiden Soekarno, yang berisi wewenang untuk mengambil segala tindakan yang dianggap perlu guna menjamin keamanan dan ketertiban.
Pada tanggal 12 Maret 1966 Letjen Soeharto atas nama Presiden Panglima Tertinggi ABRI/Mandataris MPRS/Pimpinan Besar Revolusi mengeluarkan keputusan tentang Pembubaran PKI dan organisasi-organisasi massanya yang seazas, bernaung dan berlindung di bawah PKI, dan PKI dinyatakan sebagai organisasi yang terlarang di seluruh wilayah kekuasaan Republik Indonesia.
Keputusan itu diumumkan melalui RRI pada pukul 06.00 tanggal 12 Maret 1965. Massa rakyat Jakarta mengadakan pawai kemenangan di jalan-jalan dan membawa poster-poster sebagai ungkapan rasa gembira dan terima kasih.
Museum Pengkhianatan PKI Lubang BuayaMuseum Pengkhianatan PKI dilihat dari balkon setelah keluar dari ruangan museum.
Museum Pengkhianatan PKI diresmikan oleh Presiden Soeharto pada 1 Oktober 1992. Setelah keluar dari gedung Museum Pengkhianatan PKI terdapat Museum Monumen Pancasila Sakti, yang diresmikan pada 1 Oktober 1981.
Di Museum Monumen Pancasila Sakti ini terdapat diorama rapat persiapan pemberontakan PKI, latihan sukarelawan PKI di Lubang Buaya (5 Juli – 30 September 1965), penculikan Men/pangad Letjen TNI A Yani, penganiayaan di Lubang Buaya (1 Oktober), pengamanan lanuma Halim Perdana Kusuma (2 Oktober), Pengangkatan Jenazah (4 Oktober), Proses Lahirnya Supersemar (11 Maret 1966), dan beberapa diorama lainnya.
Museum Pengkhianatan PKI Lubang Buaya
Memorabilia Kapten Pierre Andreas Tendean yang disimpan di sebuah Ruang Relik Museum Monumen Pancasila Sakti. Kapten Pierre Andreas Tendean menjadi salah satu korban pembunuhan G30S-PKI di Lubang Buaya dan dianugerahi gelar Pahlawan Revolusi.
Museum Pengkhianatan PKI Lubang Buaya
Beberapa pengunjung remaja tampak tengah mengamati pakaian Kol. Katamso dan Mayjen Suprapto saat dibunuh di Lubang Buaya, serta foto kenangan dan perlengkapan yang dimiliki almarhum.
Di Museum Monumen Pancasila Sakti terdapat ruangan teater yang menyajikan pertunjukan VCD berisi rekaman pengangkatan jenazah Pahlawan Revolusi, pemakaman di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Sidang Mahmilub, dan pengangkatan Jenderal Soeharto sebagai Pejabat Presiden RI pada 12 Maret 1967, dengan durasi 30 menit.
Museum Pengkhianatan PKI Lubang Buaya
Sebuah Panser bertipe PCMK-2 Saraceen buatan Inggris yang terletak tidak jauh dari Gedung Museum Pengkhianatan PKI. Panser ini dipakai untuk mengangkut jenazah para korban G30S-PKI dari Lubang Buaya ke RSPAD Gatot Subroto Jakarta guna pemeriksaan visum et repertum. Panser itu juga pernah dipakai untuk mendukung operasi militer di Timor Timur pada 1976, sebelum akhirnya ditarik pada Juli 1985 dan dijadikan monumen.

Museum Pengkhianatan PKI

Jl. Raya Pondok Gede, Lubang Buaya, Kecamatan Cipayung,
Jakarta Timur. Telp: 021-8400423, Fax 021-8411381
GPS: -6.291086,106.907331 (lihat Peta, lengkap dengan halte busway semua koridor)
Tiket masuk: Rp.2.500, parkir bus 5.000, sedan 3.000, motor 1.000.
Buka setiap hari pukul 09.00-16.00 WIB, Senin libur. Setiap tanggal 5 Oktober dan 10 November, pengunjung tidak dikenakan biaya masuk.





sumber : http://thearoengbinangproject.com/museum-pengkhianatan-pki-jakarta/